Apabila anda membaca sebuah buku pengantar Makroekonomi, maka hal yang pertama-tama dibahas adalah bagaimana regulasi dapat mempengaruhi kurva penawaran / permintaan. Pergerakan ekonomi dapat diibaratkan sebagai sebuah sungai yang berarus kuat. Ia dapat mensejahterakan ataupun menghancurkan tergantung dari bagaimana kita bisa mengendalikan arus itu.
Sekarang ini hampir waktunya pemilu di Indonesia, semua orang bicara mengenai mensejahterakan rakyat, membela rakyat kecil, dan sebagainya. Itulah yang tertera di iklan-iklan dan spanduk-spanduk. Retorika belaka dilemparkan kemana-mana, tapi apakah sudah dipertanyakan mengenai regulasi-regulasi apa yang mereka rencanakan ke tujuan itu? Sangatlah jarang.
Tentu, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Strategi pemasaran yang baik mengenal profil segmen pasar yang dituju. Masyarakat kita memang kurang peka mengenai impact regulasi dalam peningkatan kesejahteraan rakyat.
Mari kita adakan sebuah eksperimen pemikiran. Kita akan bicara mengenai masalah regulasi ijin membangun dan penggunaan tanah. Keluarga saya tinggal di Jakarta Selatan. Kita tahu harga tanah di sana sangatlah mahal, sehingga dengan pendapatan saya sekarang akan diperlukan masa angsuran yang amat sangat lama untuk membangun rumah.
Salah satu penyebabnya adalah bercampurnya properti yang dipergunakan untuk usaha dengan properti yang dipergunakan sebagai tempat tinggal. Apa hubungannya? Apabila anda membeli tanah untuk tujuan usaha, maka anda akan membayarnya dengan modal usaha. Jika target penerimaan anda besar, maka tentu pemilik lahan dapat meminta harga tinggi. Sebaliknya, properti tempat tinggal dibayar dengan income suatu keluarga, yang terang saja timpang bila dibandingkan dengan pendapatan sebuah badan usaha.
Satu hal yang kita mengerti tentang harga properti adalah bahwa dia cenderung sama per daerah. Jika sebidang tanah terjual seharga 10 juta per meter,maka sulit dipercaya bahwa para pemilik lahan lain di daerah itu akan menjual tanah mereka jauh di bawah harga itu. Ketika sebuah Mal atau kompleks ruko dibangun, maka harga properti di sekitarnya akan terangkat naik.
Apa yang salah dengan meningkatnya harga properti rumah tinggal? Kepemilikan rumah adalah salah satu indikator kesejahteraan keluarga yang penting. Mereka yang memiliki rumah tidak harus menyisihkan sepersekian dari pendapatan mereka untuk membayar sewa, sehingga meningkatkan output mereka ke perekonomian dengan budget yang lebih tinggi untuk pembelanjaan sehari-hari. Rumah juga dapat digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan modal usaha. Apabila usaha itu sukses, maka kesejahteraan mereka pun akan lebih terangkat.
Bandingkan jika properti berharga tinggi, sehingga hanya dapat dimiliki oleh kalangan atas. Pada kasus itu, efek kepemilikan rumah untuk meningkatkan persentase pendapatan yang dapat dibelanjakan menghilang.
Apabila anda memiliki penghasilan 5 juta per bulan, anda mungkin menghabiskan sekitar 2-3 juta yaitu 50 persen pendapatan anda untuk pembelanjaan. Jika anda berpenghasilan 50 juta per bulan, sulit dipercaya anda bisa menghabiskan 50 persennya untuk pembelanjaan rutin. 10 orang yang berpendapatan 5 juta per bulan berkontribusi lebih banyak ke ekonomi dibanding 1 orang yang berpendapatan 50 juta (dalam hitungan persentase dari pendapatan).
Asumsi bahwa harga properti terus naik juga telah dibuktikan sebagai suatu kesalahan. Harga adalah konsensus antara penjual dan pembeli terhadap nilai suatu barang atau jasa. Anda dapat memiliki lahan dengan harga 50 juta per meter, tapi jika tidak ada pembeli di harga itu angka tadi tidak berarti sama sekali. Para pengembang apartemen-apartemen mewah memanfaatkan anggapan ini dengan sebaik-baiknya.
Unit-unit yang mereka jual laku keras karena para pembeli berpikir mereka tidak akan mungkin rugi (karena harga properti SELALU naik). Kita dapat lihat apa efeknya apabila tidak ada yang menyewa unit-unit ini dari para pembeli. Dalam situasi ekonomi yang sulit, orang cenderung tidak membeli barang-barang mewah. Apabila para pembeli ini mulai melihat bahwa mereka tidak mendapat return on investment yang telah dijanjikan pengembang, disitulah gelembung akan pecah.
Bagaimana dengan fungsi penjamin kredit dari properti? Apabila bank meminjamkan uang 500 juta tentu mereka akan meminta jaminan aset dengan penilaian sejumlah itu pula. Jika akhirnya sang peminjam mengalami gagal bayar, bank akan mengambil alih aset tersebut dengan harapan bahwa aset itu dapat dijual kembali dengan harga yang sama atau lebih tinggi dari apa yang mereka bayarkan.
Dalam keadaan dimana harga properti mengalami inflasi berlebihan, bank sulit menemukan pembeli dalam harga penjaminan tersebut. Efeknya, bank mengalami kerugian karena aset mereka telah mengalami depresiasi nilai, dan karena kemampuan bank mengalirkan kredit bergantung pada nilai aset yang mereka miliki akhirnya terjadilah kemacetan kredit.
Di sisi lain, peruntukan tata ruang kota yang semrawut juga berpengaruh pada kemacetan. Sebagian besar lalu lintas pada jam-jam macet adalah dari rumah tinggal ke tempat usaha. Apabila di suatu tempat distrik usaha dan distrik residensial terdefinisi dengan baik, pemerintah kota dapat merencanakan pembangunan jalan dan infrastruktur transportasi umum dengan jauh lebih baik ketimbang apabila dua jenis distrik itu bercampur satu sama lain.
Berhubungan lagi dengan harga rumah tinggal, regulasi zoning yang disiplin akan mencegah harga properti di distrik residensial terdistorsi dengan harga properti untuk bisnis.
Kini kita telah dapat mengerti bagaimana inflasi nilai properti yang disebabkan ketidakdisiplinan dalam penerapan aturan tata kota berpengaruh pada kondisi ekonomi secara keseluruhan. Permasalahan kita adalah para pengusaha memiliki setiap alasan untuk melanggar aturan itu.
Di sinilah diperlukan disiplin dan keteguhan dari pemerintah dan legislator untuk mencegah pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Apabila pemerintah mengindahkan aturan itu kemungkinannya adalah mereka tidak sadar atau tidak peduli akan efek keseluruhannya atau mereka telah dibutakan oleh “pelicin” yang ditawarkan para pengusaha korup. Adalah tugas kita untuk memperingatkan dan menuntut kebijakan mereka, karena bahkan regulasi yang terkesan sederhana dapat berpengaruh luas.