Dalam seri komik Asterix dengan judul Obelix and Co., kita dapat menemukan sebuah fenomena ekonomi yang sering disebut-sebut orang akhir-akhir ini: bubbles. Saya belum menemukan istilah Indonesia utk bubble, mungkin kita sebut saja gelembung.
Alkisah, kaisar Julius dari bangsa Romawi dinasehati oleh seorang ekonom untuk membuat para bangsa Galia di desa Asterix terlena dengan uang sehingga semangat juang mereka menurun. Pada saat sang ekonom itu bertemu dengan Obelix, yang memproduksi batu menhir, dia telah menemukan gelembung yang akan ditiupnya. Pertama-tama dia menawarkan membeli menhir Obelix dengan harga mahal, dan dia membeli seberapa banyak pun menhir yang bisa diproduksi Obelix. Ini adalah awal mula dari setiap gelembung: sebuah peningkatan nilai ekonomi yang cepat dari sebuah komoditas.
Benar saja, sesuai dengan prinsip ekonomi, seluruh desa akhirnya mengalihkan seluruh potensi produksi mereka demi menyuplai menhir. Ekonom tersebut telah berhasil meniup gelembungnya di desa Galia melalui artificial demand creation (demand buatan). Dengan membayar harga mahal untuk setiap menhir, dia telah dapat menciptakan persepsi nilai yang tinggi.
Kemudian kaisar marah karena baginya menhir tidak ada gunanya. Sang ekonom telah membeli banyak menhir dengan uang negara, dan kaisar menuntut agar ia menyelesaikan masalah ini. Solusi yang diberikannya adalah dengan meniup gelembung menhir di seantero Romawi. Melalui langkah-langkah pemasaran yang jenius, ia telah menciptakan demand tinggi atas menhir juga di Roma. Demand tinggi itupun kemudian ikut merubah basis produksi di Romawi untuk memproduksi menhir mereka sendiri.
Diceritakan bahwa lama kelamaan pasar pun menentukan nilai menhir yang sesungguhnya: hampir tidak ada. Dalam kurun waktu singkat, pasar dapat bergerak tidak rasional akan tetapi keseimbangan permintaan dan penawaran adalah suatu keniscayaan dalam jangka panjang. Karakteristik sebuah gelembung adalah apabila ia meletus, maka nilai barang akan turun secara cepat. Ini menyebabkan aset-aset produksi Romawi yang telah dialihkan ke produksi menhir turun pula nilainya dan menyebabkan krisis ekonomi.
Gelembung adalah suatu ciri ekonomi kapitalis, dimana modal akan mengalir ke tempat yang menawarkan pertumbuhan nilai tertinggi. Ini adalah sesuatu yang baik pada prinsipnya, karena dengan potensi pertumbuhan yang tinggi tentu ada juga resiko yang besar apabila asumsi yang kita pakai ternyata salah. Pada akhirnya fleksibilitas basis produksi dalam mengantisipasi perubahanlah yang menentukan impact bubble dalam suatu ekonomi tertentu.
Dotcom bubble telah menggiatkan pula pembangunan infrastruktur jaringan di AS. Walaupun akhirnya harga-harga saham perusahaan banyak yang ambruk setelah gelembung itu meletus, namun infrastruktur jaringan itu tetap dapat dimanfaatkan sebagai basis industri lain. Dalam cerita Asterix, karena komponen utama basis produksi menhir desa Galia adalah kekuatan fisik berkat ramuan ajaib, mereka tidak akan terlalu terkena imbasnya karena kekuatan fisik itu dapat dengan mudah dialihkan ke produksi barang lain.
Februari 10, 2009 pukul 9:18 am |
Oh no you’re making Asterix into economy tale
. Could you please discuss about the Zionist’s plan to conquer the global economy. Such as “The Economic Hitman” on 1997 that destroyed Asian economy… It is very interesting… Thanks!
Februari 10, 2009 pukul 9:30 am |
Thanks for reading John. I personally don’t believe on some grand scheme to conquer the global economy. If you like that sort of thing, I’m sure there’re plenty of places on the net that can satisfy you.
I have read The Economic Hitman, but what we need to take from that is that we need our local regulators to be more aware of how their decisions can affect the populace in the long haul. We also need them not to be corrupt. The latter might be trickier.
Februari 10, 2009 pukul 10:22 am |
Hmm… wait.. are you saying that capitalist is good (sixth paragraph) ?
Februari 10, 2009 pukul 10:35 am |
I’m saying that to have a liquid credit market to pump credit where it is most likely to produce value is good. A capitalistic system provides just that, in theory.
The mass destruction of the financial system as we see today is the result of unsound lending practices and other financial mumbo-jumbo.
Now, if these banks that have been doing this kind of BS is allowed to bankrupt as they should have in a capitalistic system, the losses would only go to bank owners and stock holders.
Instead, GOVERNMENT are practically supporting these banks by giving them PUBLIC money. Now, you tell me does that belong in a true capitalistic system?
Februari 10, 2009 pukul 11:23 am |
In few cases like that, yeah capitalist gave a positive point. But this is not a capitalist country. Like capitalist, socialist-type economy is good only for few points… Mix ‘em together and you’ll get… what? I duno
Februari 10, 2009 pukul 10:00 pm |
Actually, if you mix’em together we’d have something like our economy. Capitalism is defined as “an economic system in which wealth, and the means of producing wealth, are privately owned and controlled rather than commonly, publicly, or state-owned and controlled”.
We recognize private property, don’t we? Why, yes we do. So there is certainly capitalism there. But some of the key resources such as oil,electricity, etc. is controlled by the state. You see, economy is about the movement of value. So there needs to be value to those things that are beneficial to the society even though it will not be particularly profitable (such as subsidized oil). That’s where the ‘socialism’ bit goes.
As you can see, the socialist bits are not by themselves sustainable without a strong economy to back them up because these programs will cost the government a lot. They will need to pay for them with the revenue that is generated by the capitalist bits.