<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jendra's Armchair of Economy</title>
	<atom:link href="http://pengamatekonomi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com</link>
	<description>musings on economy by an engineer</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Sep 2009 02:34:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pengamatekonomi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jendra's Armchair of Economy</title>
		<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pengamatekonomi.wordpress.com/osd.xml" title="Jendra&#039;s Armchair of Economy" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pengamatekonomi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Missing the point?</title>
		<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/09/10/missing-the-point/</link>
		<comments>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/09/10/missing-the-point/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 01:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengamatekonomi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banking]]></category>
		<category><![CDATA[financial crisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengamatekonomi.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Yang disini ini yang mulai aneh: Mereka menuntut pengembalian uang rakyat, tapi kenapa yang diuntungkan hanya nasabah Bank Century? Lalu jika ini berhasil, apa 4 triliun itu tidak keluar dari uang rakyat juga, yang bukan hanya nasabah Century?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=36&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi, dari detikFinance:</p>
<blockquote><p>Tim Pengacara Rakyat (TPR) mendaftarkan gugatan perwakilan kelompok (class action) atas perbuatan melawan hukum oleh pemerintah RI yakni Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Presiden RI. Mereka menggugat ganti rugi sebesar Rp 4 triliun karena bailout Bank Century Rp 6,7 triliun.</p></blockquote>
<p>Sampai sini masih tidak terlihat ada masalah. Hal ini memang perlu dipertanyakan.</p>
<blockquote><p>
Para tergugat tersebut, lanjutnya, telah melawan hukum karena telah berperan dalam penyuntikan dana talangan sebesar Rp. 6,77 triliun (bailout ) ke Bank Century. Mereka menilai duit dana talangan itu berasal pajak masyarakat Indonesia.</p></blockquote>
<p>Yup, ini juga benar.</p>
<blockquote><p>
&#8220;Selain itu kita akan mendirikan Century Centre yang berpusat di Jakarta untuk mengumpulkan semua nasabah seluruh Indonesia yang dikoordinir untuk mendukung kasus gugatan ini,&#8221; tutur Ulung.</p>
<p>Prosesnya, katanya, Century Centre akan menghubungi para koordinator nasabah Bank Century di tiap propinsi untuk mendata jumlah kerugian tiap nasabah.</p>
<p>&#8220;Kami berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengganti kerugian nasabah secara utuh,&#8221; jelas Ulung.</p></blockquote>
<p>Yang disini ini yang mulai aneh: Mereka menuntut pengembalian uang rakyat, tapi kenapa yang diuntungkan hanya nasabah Bank Century? Lalu jika ini berhasil, apa 4 triliun itu tidak keluar dari uang rakyat juga, yang bukan hanya nasabah Century?</p>
<p>Jelas ini hanya alasan saja menggunakan embel-embel &#8216;rakyat&#8217;. Kenapa tidak bilang saja &#8216;Tim Pengacara Nasabah Bank Century&#8217;?</p>
<p>Terlebih lagi, perlu diketahui bahwa menyimpan uang di bank itu selalu berisiko. Jika anda tidak mau risiko itu, beli saja surat utang negara yang pasti dibayarkan selama negara itu belum di ambang kehancuran. Para nasabah ini telah menaruhkan uangnya ke salah satu bank, karena itu yang menjadi kewajiban negara hanyalah sampai batas penanggungan simpanan yaitu sampai dengan 2 milyar rupiah per deposan. Ini yang seharusnya dilakukan dan negara tidak punya kewajiban ke nasabah manapun di luar jumlah itu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pengamatekonomi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pengamatekonomi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pengamatekonomi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pengamatekonomi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pengamatekonomi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pengamatekonomi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pengamatekonomi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pengamatekonomi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pengamatekonomi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pengamatekonomi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pengamatekonomi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pengamatekonomi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pengamatekonomi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pengamatekonomi.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=36&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/09/10/missing-the-point/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2828d3387ca5d9326409fc179898ba71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pengamatekonomi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanna get rich? Be a (failed) bank owner!</title>
		<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/09/09/wanna-get-rich-be-a-failed-bank-owner/</link>
		<comments>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/09/09/wanna-get-rich-be-a-failed-bank-owner/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 09:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengamatekonomi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banking]]></category>
		<category><![CDATA[financial crisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengamatekonomi.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Yang perlu diperjelas disini: yang rugi bukan LPS, melainkan rakyat. 5 triliun bisa dihabiskan untuk apa saja jika digunakan untuk pembangunan? <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=33&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari detikFinance:</p>
<blockquote><p>Menurut Anggota Komisi XI DPR, Dradjad Wibowo, dengan jumlah modal Bank Century yang sekarang hanya sebesar Rp 500 miliar, maka pada batas waktu penjualannya yaitu 2011, harga jual sahamnya hanya sekitar Rp 1,5-2 triliun saja. Lebih rendah dari total suntikan dana LPS yang sebesar Rp 6,7 triliun.  “Dugaan saya hanya Rp 1,5 triliun sampai Rp 2 triliun nilai sahamnya. Kan LPS harus mendivestasi saham Century paling lambat 3 tahun yaitu November 2011 paling lambat, artinya dengan ekuitas seperti ini yang sekarang Rp 500 miliar kalau November itu akan bisa dijual Rp 1,5 triliun sampai Rp 2 triliun artinya LPS akan rugi sampai Rp 4,5 sampai Rp 5 triliun,” tegas Dradjad.</p></blockquote>
<p>Yang perlu diperjelas disini: yang rugi bukan LPS, melainkan <strong>rakyat</strong>. 5 triliun bisa dihabiskan untuk apa saja jika digunakan untuk pembangunan?</p>
<p>Menurut saya ini adalah juga salah satu akibat salah regulasi (atau malah regulator yang korup?):</p>
<p>1. Bank yang CAR (nilai aset dibanding nilai kewajiban termasuk simpanan nasabah) nya dibawah minimum bukannya ditutup malah boleh disuntik dana sampai mencapai CAR 10%. Tentu dari uang rakyat.</p>
<p>2. Jika bank itu tak kunjung sembuh, namun malah makin sakit lantas mesti ditakeover dan dijual asetnya, boleh dijual di bawah nilai dana suntikan itu.</p>
<p>Saya tanya apakah ini masuk akal? Jika anda memiliki bisnis yang merugi, lalu bisnis anda disuntik uang oleh negara tanpa anda keluar usaha apa-apa bukankah amat luar biasa? Anda otomatis dijamin tidak akan miskin. Bahkan anda tidak perlu memiliki kompetensi apapun dalam menjalankan bisnis itu, karena toh kalau rugi ada yang menanggung.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pengamatekonomi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pengamatekonomi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pengamatekonomi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pengamatekonomi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pengamatekonomi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pengamatekonomi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pengamatekonomi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pengamatekonomi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pengamatekonomi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pengamatekonomi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pengamatekonomi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pengamatekonomi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pengamatekonomi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pengamatekonomi.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=33&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/09/09/wanna-get-rich-be-a-failed-bank-owner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2828d3387ca5d9326409fc179898ba71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pengamatekonomi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Importance of Regulation</title>
		<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/11/the-importance-of-regulation/</link>
		<comments>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/11/the-importance-of-regulation/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 05:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengamatekonomi</dc:creator>
				<category><![CDATA[macros]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengamatekonomi.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Strategi pemasaran yang baik mengenal profil segmen pasar yang dituju. Masyarakat kita memang kurang peka mengenai impact regulasi dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=20&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Apabila anda membaca sebuah buku pengantar Makroekonomi, maka hal yang pertama-tama dibahas adalah bagaimana regulasi dapat mempengaruhi kurva penawaran / permintaan. Pergerakan ekonomi dapat diibaratkan sebagai sebuah sungai yang berarus kuat. Ia dapat mensejahterakan ataupun menghancurkan tergantung dari bagaimana kita bisa mengendalikan arus itu.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Sekarang ini hampir waktunya pemilu di Indonesia, semua orang bicara mengenai mensejahterakan rakyat, membela rakyat kecil, dan sebagainya. Itulah yang tertera di iklan-iklan dan spanduk-spanduk. Retorika belaka dilemparkan kemana-mana, tapi apakah sudah dipertanyakan mengenai regulasi-regulasi apa yang mereka rencanakan ke tujuan itu? Sangatlah jarang.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Tentu, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Strategi pemasaran yang baik mengenal profil segmen pasar yang dituju. Masyarakat kita memang kurang peka mengenai impact regulasi dalam peningkatan kesejahteraan rakyat.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Mari kita adakan sebuah eksperimen pemikiran. Kita akan bicara mengenai masalah regulasi ijin membangun dan penggunaan tanah. Keluarga saya tinggal di Jakarta Selatan. Kita tahu harga tanah di sana sangatlah mahal, sehingga dengan pendapatan saya sekarang akan diperlukan masa angsuran yang amat sangat lama untuk membangun rumah.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Salah satu penyebabnya adalah bercampurnya properti yang dipergunakan untuk usaha dengan properti yang dipergunakan sebagai tempat tinggal. Apa hubungannya? Apabila anda membeli tanah untuk tujuan usaha, maka anda akan membayarnya dengan modal usaha. Jika target penerimaan anda besar, maka tentu pemilik lahan dapat meminta harga tinggi. Sebaliknya, properti tempat tinggal dibayar dengan income suatu keluarga, yang terang saja timpang bila dibandingkan dengan pendapatan sebuah badan usaha.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Satu hal yang kita mengerti tentang harga properti adalah bahwa dia cenderung sama per daerah. Jika sebidang tanah terjual seharga 10 juta per meter,maka sulit dipercaya bahwa para pemilik lahan lain di daerah itu akan menjual tanah mereka jauh di bawah harga itu. Ketika sebuah Mal atau kompleks ruko dibangun, maka harga properti di sekitarnya akan terangkat naik.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Apa yang salah dengan meningkatnya harga properti rumah tinggal? Kepemilikan rumah adalah salah satu indikator kesejahteraan keluarga yang penting. Mereka yang memiliki rumah tidak harus menyisihkan sepersekian dari pendapatan mereka untuk membayar sewa, sehingga meningkatkan output mereka ke perekonomian dengan budget yang lebih tinggi untuk pembelanjaan sehari-hari. Rumah juga dapat digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan modal usaha. Apabila usaha itu sukses, maka kesejahteraan mereka pun akan lebih terangkat.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Bandingkan jika properti berharga tinggi, sehingga hanya dapat dimiliki oleh kalangan atas. Pada kasus itu, efek kepemilikan rumah untuk meningkatkan persentase pendapatan yang dapat dibelanjakan menghilang.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Apabila anda memiliki penghasilan 5 juta per bulan, anda mungkin menghabiskan sekitar 2-3 juta yaitu 50 persen pendapatan anda untuk pembelanjaan. Jika anda berpenghasilan 50 juta per bulan, sulit dipercaya anda bisa menghabiskan 50 persennya untuk pembelanjaan rutin. 10 orang yang berpendapatan 5 juta per bulan berkontribusi lebih banyak ke ekonomi dibanding 1 orang yang berpendapatan 50 juta (dalam hitungan persentase dari pendapatan).</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Asumsi bahwa harga properti terus naik juga telah dibuktikan sebagai suatu kesalahan. Harga adalah konsensus antara penjual dan pembeli terhadap nilai suatu barang atau jasa. Anda dapat memiliki lahan dengan harga 50 juta per meter, tapi jika tidak ada pembeli di harga itu angka tadi tidak berarti sama sekali. Para pengembang apartemen-apartemen mewah memanfaatkan anggapan ini dengan sebaik-baiknya.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Unit-unit yang mereka jual laku keras karena para pembeli berpikir mereka tidak akan mungkin rugi (karena harga properti SELALU naik). Kita dapat lihat apa efeknya apabila tidak ada yang menyewa unit-unit ini dari para pembeli. Dalam situasi ekonomi yang sulit, orang cenderung tidak membeli barang-barang mewah. Apabila para pembeli ini mulai melihat bahwa mereka tidak mendapat return on investment yang telah dijanjikan pengembang, disitulah gelembung akan pecah.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana dengan fungsi penjamin kredit dari properti? Apabila bank meminjamkan uang 500 juta tentu mereka akan meminta jaminan aset dengan penilaian sejumlah itu pula. Jika akhirnya sang peminjam mengalami gagal bayar, bank akan mengambil alih aset tersebut dengan harapan bahwa aset itu dapat dijual kembali dengan harga yang sama atau lebih tinggi dari apa yang mereka bayarkan.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Dalam keadaan dimana harga properti mengalami inflasi berlebihan, bank sulit menemukan pembeli dalam harga penjaminan tersebut. Efeknya, bank mengalami kerugian karena aset mereka telah mengalami depresiasi nilai, dan karena kemampuan bank mengalirkan kredit bergantung pada nilai aset yang mereka miliki akhirnya terjadilah kemacetan kredit.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Di sisi lain, peruntukan tata ruang kota yang semrawut juga berpengaruh pada kemacetan. Sebagian besar lalu lintas pada jam-jam macet adalah dari rumah tinggal ke tempat usaha. Apabila di suatu tempat distrik usaha dan distrik residensial terdefinisi dengan baik, pemerintah kota dapat merencanakan pembangunan jalan dan infrastruktur transportasi umum dengan jauh lebih baik ketimbang apabila dua jenis distrik itu bercampur satu sama lain.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Berhubungan lagi dengan harga rumah tinggal, regulasi zoning yang disiplin akan mencegah harga properti di distrik residensial terdistorsi dengan harga properti untuk bisnis.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Kini kita telah dapat mengerti bagaimana inflasi nilai properti yang disebabkan ketidakdisiplinan dalam penerapan aturan tata kota berpengaruh pada kondisi ekonomi secara keseluruhan. Permasalahan kita adalah para pengusaha memiliki setiap alasan untuk melanggar aturan itu.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Di sinilah diperlukan disiplin dan keteguhan dari pemerintah dan legislator untuk mencegah pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Apabila pemerintah mengindahkan aturan itu kemungkinannya adalah mereka tidak sadar atau tidak peduli akan efek keseluruhannya atau mereka telah dibutakan oleh &#8220;pelicin&#8221; yang ditawarkan para pengusaha korup. Adalah tugas kita untuk memperingatkan dan menuntut kebijakan mereka, karena bahkan regulasi yang terkesan sederhana dapat berpengaruh luas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pengamatekonomi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pengamatekonomi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pengamatekonomi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pengamatekonomi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pengamatekonomi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pengamatekonomi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pengamatekonomi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pengamatekonomi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pengamatekonomi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pengamatekonomi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pengamatekonomi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pengamatekonomi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pengamatekonomi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pengamatekonomi.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=20&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/11/the-importance-of-regulation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2828d3387ca5d9326409fc179898ba71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pengamatekonomi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>God help us</title>
		<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/10/god-help-us/</link>
		<comments>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/10/god-help-us/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 10:28:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengamatekonomi</dc:creator>
				<category><![CDATA[financial crisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengamatekonomi.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[..Selama itu pula saya berusaha keras memikirkan apa efeknya ke Indonesia apabila hal terburuk terjadi di sana. I can't really get it, karena sekarang ini di sekitar saya keadaan tidak terlihat begitu buruk...<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=15&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sedang mendengarkan podcast dari Karl Denninger. Dia mengelola sebuah situs yaitu <a href="http://market-ticker.denninger.net/">http://market-ticker.denninger.net/</a>. Tulisan-tulisannya terus saya ikuti selama 2 bulan terakhir ini, dan dia membahas secara detil mengenai krisis finansial di Amerika.</p>
<p>Selama itu pula saya berusaha keras memikirkan apa efeknya ke Indonesia apabila hal terburuk terjadi di sana. I can&#8217;t really get it, karena sekarang ini di sekitar saya keadaan tidak terlihat begitu buruk. </p>
<p>Lalu saya mendengarkan sebuah retorika Karl di podcast itu, &#8220;If you think 100 dollars oil is bad, what do you think about 200 dollars?&#8221;.</p>
<p>Then it <em>clicked</em>.</p>
<p>Permasalahan di AS, pada intinya, adalah bahwa bank-bank besar mereka memiliki banyak sekali hutang karena banyaknya terjadi kegagalan bayar produk-produk finansial mereka. Di samping itu, daripada membiarkan bank-bank ini bangkrut (sehingga menghilangkan hutang-hutang mereka) pemerintah AS terus memompa uang publik.  Presiden Obama pun terus merencanakan triliunan dolar untuk paket stimulus. </p>
<p>Apa yang harus kita mengerti adalah bahwa triliunan dolar itu harus dibiayai dari penerbitan surat utang AS (bonds). Karl telah mengidentifikasi kemungkinan bahwa investor-investor asing mungkin tidak mau membeli surat-surat utang ini dengan melihat fundamental ekonomi AS yang lemah. </p>
<p>Jika itu terjadi, apa langkah terakhir untuk membayar hutang itu? Dengan mencetak lebih banyak uang. Jika itu terjadi, maka harga-harga komoditas di pasar internasional yang dihargai dengan dolar akan meningkat (inflasi).  Indonesia yang amat sangat bergantung ke komoditas impor, sudah pasti akan terkena imbasnya. Kalau kita sampai ke poin dimana minyak dunia berharga 200 dolar, seperti apa kehancuran yang bisa terjadi?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pengamatekonomi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pengamatekonomi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pengamatekonomi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pengamatekonomi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pengamatekonomi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pengamatekonomi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pengamatekonomi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pengamatekonomi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pengamatekonomi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pengamatekonomi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pengamatekonomi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pengamatekonomi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pengamatekonomi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pengamatekonomi.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=15&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/10/god-help-us/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2828d3387ca5d9326409fc179898ba71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pengamatekonomi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obelix’ Bubbles</title>
		<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/obelix%e2%80%99-bubbles/</link>
		<comments>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/obelix%e2%80%99-bubbles/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 22:54:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengamatekonomi</dc:creator>
				<category><![CDATA[macros]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengamatekonomi.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Dalam seri komik Asterix dengan judul Obelix and Co., kita dapat menemukan sebuah fenomena ekonomi yang sering disebut-sebut orang akhir-akhir ini: bubble<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=11&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Dalam seri komik Asterix dengan judul Obelix and Co., kita dapat menemukan sebuah fenomena ekonomi yang sering disebut-sebut orang akhir-akhir ini: bubbles. Saya belum menemukan istilah Indonesia utk bubble, mungkin kita sebut saja gelembung.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Alkisah, kaisar Julius dari bangsa Romawi dinasehati oleh seorang ekonom untuk membuat para bangsa Galia di desa Asterix terlena dengan uang sehingga semangat juang mereka menurun. Pada saat sang ekonom itu bertemu dengan Obelix, yang memproduksi batu menhir, dia telah menemukan gelembung yang akan ditiupnya. Pertama-tama dia menawarkan membeli menhir Obelix dengan harga mahal, dan dia membeli seberapa banyak pun menhir yang bisa diproduksi Obelix. Ini adalah awal mula dari setiap gelembung: sebuah peningkatan nilai ekonomi yang cepat dari sebuah komoditas.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Benar saja, sesuai dengan prinsip ekonomi, seluruh desa akhirnya mengalihkan seluruh potensi produksi mereka demi menyuplai menhir. Ekonom tersebut telah berhasil meniup gelembungnya di desa Galia melalui artificial demand creation (demand buatan). Dengan membayar harga mahal untuk setiap menhir, dia telah dapat menciptakan persepsi nilai yang tinggi.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Kemudian kaisar marah karena baginya menhir tidak ada gunanya. Sang ekonom telah membeli banyak menhir dengan uang negara, dan kaisar menuntut agar ia menyelesaikan masalah ini. Solusi yang diberikannya adalah dengan meniup gelembung menhir di seantero Romawi. Melalui langkah-langkah pemasaran yang jenius, ia telah menciptakan demand tinggi atas menhir juga di Roma. Demand tinggi itupun kemudian ikut merubah basis produksi di Romawi untuk memproduksi menhir mereka sendiri.<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Diceritakan bahwa lama kelamaan pasar pun menentukan nilai menhir yang sesungguhnya: hampir tidak ada. Dalam kurun waktu singkat, pasar dapat bergerak tidak rasional akan tetapi keseimbangan permintaan dan penawaran adalah suatu keniscayaan dalam jangka panjang. Karakteristik sebuah gelembung adalah apabila ia meletus, maka nilai barang akan turun secara cepat. Ini menyebabkan aset-aset produksi Romawi yang telah dialihkan ke produksi menhir turun pula nilainya dan menyebabkan krisis ekonomi.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Gelembung adalah suatu ciri ekonomi kapitalis, dimana modal akan mengalir ke tempat yang menawarkan pertumbuhan nilai tertinggi. Ini adalah sesuatu yang baik pada prinsipnya, karena dengan potensi pertumbuhan yang tinggi tentu ada juga resiko yang besar apabila asumsi yang kita pakai ternyata salah. Pada akhirnya fleksibilitas basis produksi dalam mengantisipasi perubahanlah yang menentukan impact bubble dalam suatu ekonomi tertentu.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Dotcom bubble telah menggiatkan pula pembangunan infrastruktur jaringan di AS. Walaupun akhirnya harga-harga saham perusahaan banyak yang ambruk setelah gelembung itu meletus, namun infrastruktur jaringan itu tetap dapat dimanfaatkan sebagai basis industri lain. Dalam cerita Asterix, karena komponen utama basis produksi menhir desa Galia adalah kekuatan fisik berkat ramuan ajaib, mereka tidak akan terlalu terkena imbasnya karena kekuatan fisik itu dapat dengan mudah dialihkan ke produksi barang lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pengamatekonomi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pengamatekonomi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pengamatekonomi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pengamatekonomi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pengamatekonomi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pengamatekonomi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pengamatekonomi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pengamatekonomi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pengamatekonomi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pengamatekonomi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pengamatekonomi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pengamatekonomi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pengamatekonomi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pengamatekonomi.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=11&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/obelix%e2%80%99-bubbles/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2828d3387ca5d9326409fc179898ba71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pengamatekonomi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Now with 700% more Value!</title>
		<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/now-with-700-more-value/</link>
		<comments>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/now-with-700-more-value/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 22:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengamatekonomi</dc:creator>
				<category><![CDATA[basic econ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengamatekonomi.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Value atau nilai adalah tema sentral dalam ekonomi. Seperti listrik mengalir karena beda potensial atau udara mengalir karena perbedaan tekanan, ekonomi bergerak karena perbedaan nilai (ekonomi)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=6&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Value atau nilai adalah tema sentral dalam ekonomi. Seperti listrik mengalir karena beda potensial atau udara mengalir karena perbedaan tekanan, ekonomi bergerak karena perbedaan nilai (ekonomi). Nilai muncul karena kita memiliki sumber daya yang terbatas. Kalau kita beranggapan sesuatu bernilai tinggi, itu karena kita rela menukarkan persentase yang tinggi dari sumber daya yang kita miliki dengannya. Which is why, orang kadang tertukar dengan harga. Walaupun kedua konsep ini berhubungan, mereka tidaklah sama.</p>
<p> </p>
<p>Nilai ekonomi suatu barang atau jasa berbeda-beda dari orang ke orang dan dari waktu ke waktu. Nilai bisa meroket tiba-tiba, kemudian jatuh bebas untuk barang yang sama dalam kurun waktu yang singkat. Jika suatu ekonomi membaik atau memburuk, hampir dapat dipastikan bahwa itu dapat ditarik kepada kinerja penilaian satu atau sekelompok barang dan jasa yang penting bagi ekonomi tersebut.  Penilaian yang optimal adalah kunci kemajuan ekonomi. Optimal di sini berarti setiap barang dan jasa dihargai sesuai dengan konsensus sebagian besar pelaku ekonomi dan sestabil mungkin seiring waktu. Itu memastikan bahwa sumber daya ekonomi dapat dialokasikan secara efisien untuk memproduksi barang atau jasa yang paling banyak memberi nilai bagi para pelaku ekonomi.</p>
<p> </p>
<p>Kenapa harus stabil? Karena alokasi sumber daya seringkali tidak dapat diubah begitu saja. Contoh:  Sebuah perumahan dibangun dalam kurun waktu 3 tahun. Di awal pembangunan mungkin sebuah rumah memakan biaya 200 juta, kemudian akan dijual dengan harga 350 juta. Di estimasi awal itu, pembangunan perumahan ini bagus untuk ekonomi karena ia telah menciptakan nilai tambah 150 juta untuk pengembang per rumah. Namun memasuki tahun ketiga, pembangunan itu ternyata telah merusak ekologi sekitar sehingga perumahan itu rawan banjir. Orang tidak mau membayar rumah di daerah itu seharga 350 juta, paling-paling mereka hanya mau 50 juta. Dalam kasus ini, nilai ekonomi secara keseluruhan telah berkurang 150 juta per rumah. Apabila perumahan itu dapat disulap kembali menjadi uang seketika, kita dapat menghindari penurunan nilai ekonomi keseluruhan.</p>
<p> </p>
<p>Itulah yang menjadi masalah inheren kegiatan ekonomi seiring waktu: seluruh kegiatan ekonomi dilakukan dengan tujuan pertambahan nilai. Apabila asumsi ini ternyata salah, ekonomi menyusut sebagai akibatnya. Itu mengapa walau kurs rupiah yang stabil lebih disukai pelaku pasar dibanding kurs rupiah yang kuat. Dengan stabilitas, orang-orang dapat membuat rencana agar kemungkinan gagal dapat diminimalkan.</p>
<p> </p>
<p>Poin saya dalam posting ini adalah untuk menekankan pentingnya bertanya tentang value pada setiap masalah ekonomi. Ke depannya saya akan menelaah masalah-masalah ekonomi lain. Penting bagi kita untuk terus bertanya bagaimana pergerakan value dalam setiap kasus itu apabila kita ingin memahami lebih dalam tentang ekonomi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pengamatekonomi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pengamatekonomi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pengamatekonomi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pengamatekonomi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pengamatekonomi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pengamatekonomi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pengamatekonomi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pengamatekonomi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pengamatekonomi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pengamatekonomi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pengamatekonomi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pengamatekonomi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pengamatekonomi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pengamatekonomi.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=6&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/now-with-700-more-value/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2828d3387ca5d9326409fc179898ba71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pengamatekonomi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Disclaimer</title>
		<link>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/disclaimer/</link>
		<comments>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/disclaimer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 10:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengamatekonomi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengamatekonomi.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[To me at least, the economics world has always been a mysterious one in that I don't know how it works<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=3&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>As mentioned in my facebook note, this blog is an experiment on providing commentaries specifically about finance and the economy. </p>
<p>To me at least, the economics world has always been a mysterious one in that I don&#8217;t know how it works. So this blog would be mostly my personal journeys and musings as I try to delve into this great unknown. Semoga berguna.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pengamatekonomi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pengamatekonomi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pengamatekonomi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pengamatekonomi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pengamatekonomi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pengamatekonomi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pengamatekonomi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pengamatekonomi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pengamatekonomi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pengamatekonomi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pengamatekonomi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pengamatekonomi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pengamatekonomi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pengamatekonomi.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pengamatekonomi.wordpress.com&amp;blog=6512222&amp;post=3&amp;subd=pengamatekonomi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengamatekonomi.wordpress.com/2009/02/09/disclaimer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2828d3387ca5d9326409fc179898ba71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pengamatekonomi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
